Sabtu, 14 April 2012

 Korupsi vs Nasionalis Bangsa

Nasionalisme adalah satu paham atau ajaran yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia dimana bahasa dan budaya menjadi unsur pengikat dalam melakukan interaksi sosial. Unsur pengikat inilah yang melahirkan kesadaran akan nasionalisme komunitas/rakyat Indonesia ketika berhadapan dengan lingkungan luar yang mengganggu.

Dalam sejarah Indonesia khususnya, nasionalisme masih sangat penting akan keberadaannya, Pertama, misalnya, sebagai ideologi pemersatu untuk melawan penjajah Belanda, atau Jepang, atau dalam melawan hegemoni neo-kolonilalisme. Dulu, kalau orang-orang di kepulauan Nusantara ini tersebar terus, tidak ada ideologi yang mempersatukan dan tentu dengan mudah Belanda menguasai kita. Sangat mungkin orang-orang di kepulauan Nusantara justru saling berperang sendiri. Apalagi, ketika politik adu domba Belanda terus menerus memompakan permusuhan dan konflik-konflik. Kedua, sebagai konsekuensinya, ketika orang-orang di kepulauan Nusantara tadi berhasil memerdekakan dirinya, nasionalisme paling tidak sebagai wacana ideologis untuk membangkitkan semangat mengisi kemerdekaan Indonesia. walaupun kadang nasionalisme semacam ini disalahtafsirkan, dengan alasan nasionalisme Indonesia kita menyimpan kecenderungan bermusuhan dengan bangsa lain.

Tapi, sisi positifnya tentu banyak, sebagai bangsa baru yang menemukan dirinya, kita berusaha tetap kompak sehingga banyak konflik yang berpotensi mengancam persatuan Indonesia dapat diatasi atas nama nasionalisme Indonesia. Ketiga, nasionalisme paling tidak dapat dipakai untuk memberikan identitas keindonesiaan, agar Indonesia itu ada di dunia. Akan tetapi, apa yang dicatat dunia dengan nasionalisme Indonesia. Mungkin tidak banyak. Waktu itu, terlepas dari konstruksi orientalisme, orang lebih mengenal Indonesia sebagai bangsa yang cukup ramah, negara terbelakang dan miskin, negara yang memiliki bahasa persatuan Indonesia, yang mengatasi lebih dari 600-an bahasa-bahasa lokal yang hingga hari ini tetap bertahan.

Negara kita Indonesia jauh hari telah mencanangkan berbagai pemahaman Nasionalisme dalam konsep Wawasan Nusantara yang dituangkan dalam satu kesatuan: Ideologi , Politik, Ekonomi, Sosial, Budaya, Agama, Pertahanan Keamanan Nasional ). Sebagai konsekuensinya setiap warganegara Indonesia, apalagi ketika ia dicalonkan sebagai pemimpin di dalam struktur kekuasaan yang ada tentu harus memiliki Wawasan Nusantara dimana yang bersangkutan harus punya kewajiban mutlak untuk ikut mempertahankan satu kesatuan wilayah Indonesia dari sabang sampai merauke yang dituangkan dalam konsep IPOLEKSOSBUDAGHANKAMNAS.

Sekarang ini dari hasil pengamatan para ahli tidak dapat dipungkiri, rasa nasionalisme bangsa kita sangatlah menipis, bahkan terancam punah. Yang muncul adalah Ikatan Primordialisme, yang berkiblat pada ikatan kesukuan, kedaerahan, keagamaan dan/atau antar golongan.

Sejarah membuktikan, selama 30 tahun terakhir Indonesia tercengkeram oleh satu model kekuasaan yang otoritarian, yang biasa disebut rezim Orde Baru. Sebagai akibatnya, banyak masalah ketidaksukaan dan ketidakpuasan bergolak di bawah permukaan. Yang paling menonjol saat itu adalah matinya demokrasi, menjamurkan KKN, tidak adanya hukum yang berkeadilan, dan sebagainya. Akibat kondisi terebut, potensi keretakan berubah menjadi bom waktu. Banyak orang mencoba memobilisasi agama, atau etnisitas, atau bahkan mengusung wacana dunia seperti demokrasi dan keadilan universal untuk melakukan konsolidasi resistensi. Dengan tergesa-gesa dan ceroboh, rezim menyelesaikan resistensi itu dengan kekerasan terbuka atau tersembunyi. Kita tahu, pada waktu itu aparat militer sungguh berkuasa dan menakutkan. Apakah militer melakukan itu dengan memegang semangat nasionalisme Indonesia. Namun, strategi yang paling jitu untuk menangkal resistensi itu pemerintah Orde Baru memanfaatkan nasionalisme untuk mengontrol dan menek potensial yang menghancurkan pemerintahan bahkan negara. Dalam hal ini nasionalisme haruslah dibangun sedemikian rupa yang berkiblat pada bagaimana mempertahankan pluralisme (Bhineka Tunggal Ika) agar kekecewaan-kekecewaan yang terjadi di lokal-lokal dapat dipatahkan.

Nasionalisme Indonesia dikedepankan untuk menahan agar nasionalisme etnis, atau nasionalisme agama, atau nasionalisme geografis tidak berkembang menjadi kekuatan yangal Ika) Negara Indonesia di dalam wawasan nusantara, yang mengakomodir ketergantungan global.

Namun nasionalisme semacam itupun sangat sulit dibangun jika sistem sosial, sistem hukum dan sistem pemerintahan telah terkontaminasi dengan budaya korup yang tidak dapat dicegah. Selama Orde Baru, sistem politik atau struktur kekuasaan telah memungkinkan merajalelanya korupsi besar-besaran di segala bidang.

Korupsi yang “membudaya” ini telah membikin kerusakan-kerusakan parah bahkan sampai kepada budaya prilaku masyarakat lapisan bawah yang memandang korupsi sebagai bagian dari sistem sosial, politik, ekonomi, hukum dan pemerintahan. Sekalipun dalam undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi mulai dari UU No.31 tahun 1999 Jo. UU No.20 tahun 2001 yang dalam pertimbangannya telah menegaskan bahwa “akibat tindak pidana korupsi yang terjadi selama ini selain merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, juga menghabat pertumbuhan dan kelangsungan pembangunan nasional yang menuntut efisiensi tinggi”. Korupsi tidak hanya sekedar merusak keuangan dan perekonomian negara, akan tetapi merusak seluruh sendi-sendi kehidupan masyarakat, bangsa dan negara yang berdaulat.

Menyambut sumpah pemuda 28 Oktober 2010 ini, kita butuh faham nasionalisme yang baru atau faham Nasionalisme yang ke-II, dimana Nasionalisme yang baru ini benar-benar berkiblat pada :

1). faham Bhineka Tunggal Ika, karena tidak mungkin ada persatuan jika masyarakatnya kita tidak mampu menjadi orang yang berbeda dengan orang lain atau tidak mampu mengatasi perbedaannya ;

2). Terbangunnya sikap bersama bagaimana Korupsi Harus diberantas tuntas karena bertentangan dengan pembangunan nasional disegala bidang ; dan

3). Terbangunnya sikap setiap warganegara Indonesia tentang keharusan mempertahankan keutuhan bangsa dan negara Indonesia yang memahami wawasan nusantara sebagai satu kesatuan yang integral dari : Ideologi, ekonomi, politik, sosial, budaya, agama, pertahanan dan keamanan nasional.

Nasionalisme tidak akan pernah dimiliki oleh seorang Koruptor, karena Koruptor adalah parasit negara yang menyengsarakan kehidupan rakyat dan membangkrutkan negara menjadi hancur. Dari dahulu kita sudah sama tahu bahwa penyebab utama terjadinya tindak pidana korupsi adalah :

1)Adanya unsur "Rangsangan" hal ini berkaitan dengan rendahnya iman dan taqwa yang dimiliki oleh para penyelenggara negara dan pihak lain yang terlibat meguasai keuangan negara ;

2)Adanya unsur "Kesempatan", hal ini berkaitan dengan rendahnya unsur "Pengawasan" dalam managemen pengelolaan keuangan negara ;

Orang tidak mungkin mau korupsi jika ia tidak terangsang dan tidak ada kesempatan untuk itu. Obsesi korupsi tentu disebabkan :

1. Gaya hidup yang senang pamer ;
2. Merasa banyak uang akan dihargai orang ;
3. Untuk membiayai proyek mencari kekuasaan ;
4. Untuk biaya gengsi sosial yang terlanjur tinggi ;
5. Untuk modal usaha sebagai jaminan hari tua ;
6. Terpaksa untuk membiayai kebutuhan pokok yang mendesak, seperti biaya sekolah anak, biaya pengobatan keluarga yang sakit ;
7.Dll.

Masyarakat Indonesia yang menganut ekonomi pasar dan neo liberalisme tidak dapat menghindari terjangkitnya gaya hidup mewah yang memerlukan biaya yang tinggi, sementara pendapatan dan daya belinya yang rendah, maka tidak dapat menghindari dari rangsangan untuk korupsi, apalagi Iman dan Taqwa sebagian besar masyarakat kita sangat diragukan.

Sumber :  http://www.kantorhukum-lhs.com/1.php?id=korupsi-vs-nasionalisme-bangsa
Oleh :  Drs. M. Sofyan Lubis, SH
Manusia Dan Penderitaan

Penderitaan berasal dari kata derita yang merupakan bahasa sanksekerta dhra. Yang artinya menanggung atau merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan yang tidak pernah diharapkan. Seperti perasaan bimbang, ketakutan, dan juga kesepian. Banyak diantaranya yang akhirnya menyebabkan si penderita tersebut mengalami kekalutan mental atau ang sering disebut frustasi.Dalam ilmu psikologi kekalutan mental merupakan gangguan kejiwaan akibat ketidakmampuan seseorang untuk menghadapi masalah yang sedang dialaminya, sehingga banyak dari mereka bisa saja bertindak tidak sewajarnya. 

Di masyarakat banyak beredar kepercayaan yang salah mengenai gangguan mental ini. Ada yang percaya bahwa gangguan mental ini diakibatkan karena roh jahat, ada yang menuduh akibat guna-guna, dan karena kutukan/hukuman atas dosanya. Padahal didalam dunia psikologi ada beberapa hal yang menyebabkan seseorang mengalami kekalutan mental, diantaranya :
  •  Kepribadian yang lemah. Seseorang yang memiliki kondisi jasmani ataupun mental yang kurang sempurna cenderung akan lebih mudah menyerah dalam menghadapi suatu persoalan. Hal ini juga yang akhirnya membuat mereka menjadi pribadi yang lemah.
  • Terjadinya konflik sosial budaya akibat norma dalam masyarakat yang berbeda. Perasaan tidak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat dimana ia tinggal akan menyababkan seseorang tersebut mengalami kekalutan mental. Karena perasaan berbeda, dan mungkin diasingkan dari lingkungan akan membuat pribadinya menjadi lebih tertekan. 
  • Cara pematangan batin yang salah dengan memberikan reaksi yang berlebihan terhadap kehidupan sosial.
 Gejala seseorang yang sedang mengalami gangguan kejiwaan bisa diamti dengan :
  • Pada jasmaninya, penderita akan mengalami pusing, sesak napas, demam, dan nyeri pada lambung.
  • Pada kejiwaannya, perasaan cemas, ketakutan, patah hati, apatis, cemburu dan mrah akan lebih sering dirasakan.
 Penderita kekalutan mental banyak terdapat di lingkungan :
  1. Perkotaan
  2. Remaja
  3. Wanita
  4. Orang yang tidak beragama
  5. Orang yang mengejar materi.
Tetapi kekalutan mental atau yang sekarang lebih tenar dengan sebutan galau lebih banyak dialami oleh remaja baik putra maupun putri. Masa remaja merupakan masa yang penuh gejolak. Pada masa ini mood (suasana hati) bisa berubah dengan sangat cepat. Perubahan mood yang drastis pada para remaja ini seringkali dikarenakan beban pekerjaan rumah, pekerjaan sekolah, atau kegiatan sehari-hari di rumah. Remaja cenderung untuk menganggap diri mereka sangat unik dan bahkan percaya keunikan mereka akan berakhir dengan kesuksesan dan ketenaran.Seperti halnya Remaja putri akan bersolek berjam-jam di hadapan cermin karena ia percaya orang akan melirik dan tertarik pada kecantikannya, sedang remaja putra akan membayangkan dirinya dikagumi lawan jenisnya jika ia terlihat unik dan “hebat”. Pada usia 16 tahun ke atas, keeksentrikan remaja akan berkurang dengan sendirinya jika ia sering dihadapkan dengan dunia nyata. Pada saat itu, remaja akan mulai sadar bahwa orang lain tenyata memiliki dunia tersendiri dan tidak selalu sama dengan yang dihadapi atau pun dipikirkannya. Masa remaja merupakan masa yang kritis dalam siklus perkembangan seseorang. Di masa ini banyak terjadi perubahan dalam diri seseorang sebagai persiapan memasuki masa dewasa. Remaja tidak dapat dikatakan lagi sebagai anak kecil, namun ia juga belum dapat dikatakan sebagai orang dewasa. Hal ini terjadi oleh karena di masa ini penuh dengan gejolak perubahan baik perubahan biologik, psikologik, maupun perubahan sosial.

Ada beberapa bentuk frustasi yang memang sudah banyak dikenal :
  • Agresi. Kemarahan yang berlebihan kibat emosi yang tidak terkendali dan secara fisik berakibat mudah terjadinya hipertensi tau tindakan sadis yang dapat membahayakan orang sekitar.
  • Regresi. Kembali pada pola reaksi yang primitive atau kekanak-kanakan.
  • Fiksasi. Peletakan atau pembatasan pada satu pola yang sama.
  • Proyeksi. Usaha melemparkan atau memproyeksikan kelemahan dan sikap-sikap sendiri yang negative terhadap orang lain.
  •  Identifikasi. Menyamakan diri dengan seseorang yang sukses didalam imaginasinya.
  • Narsisme. Self love yang berlebihan, sehingga yang bersangkutan merasa dirinya lebih superior dari orang lain.
  • Autisme. Gejala menutup diri secara total dari dunia riil, tidak mau berkomnikasi dengan orang lain, ia puas dengan fantasinya sendiri yang dapat menjuru ke sifat yang sinting. 
Cara yang dapat dilakukan untuk menghindarkan diri kekalutan mental adalah :
  • Harus pandai-pandai mengontrol emosi dalam menghadapi dan menyelesaikan suatu masalah.
  •  Berusaha untuk sabar.
  • Yakin bahwa setipa masalah memiliki jalan keluar dengan cara yang baik.
  • Lebih mendekatkan diri pada Allah s.w.t

Kamis, 05 April 2012

 Kesenian
Aliran-Aliran Kesenian
Keragaman seni memiliki variasi baik dalam bentuk maupun dalam gaya dan aliran seni. Menurut Sudarso SP gaya, corak atau langgam ataupun style sebenarnya berurusan dengan bentuk luar sesuatu karya seni, sedangkan aliran, faham atau isme lebih menyangkut pandangan atau prinsip yang lebih dalam sifatnya (1990:93). Aliran pada kesenian memiliki banyak sekali ragam, diantaranya Naturalisme, Realisme, Impresionisme, Romantisisme, Expressionisme, dan Surrealisme . Aliran-aliran lain seperti Fauvisme, Kubisme, Futurisme, Dadaisme, Abstractionism, Optical Art, Populair Art, Suprematisme, Constructivism, Neo Plastisism, dan Purisme. 

Materi yang akan dibahas disini adalah:
a. Naturalisme
Naturalisme merupakan corak atau aliran dalam seni rupa dengan berusaha melukiskan sesuatu obyek sesuai dengan alam (nature). Obyek yang digambarkan diungkapkan seperti apa yang dilihat. Untuk memberikan kesan mirip diusahakan dengan bentuk yang persis, ini artinya proporsi, keseimbangan, perspektf, pewarnaan dan lainnya diusahakan setepat mungkin sesuai dengan yang dilihat. Penganut naturalisme berpendapat bahwa satu-satunya dunia yang dapat dipercaya secara empiris ialah dunia eksitensi yang bersifat alami. Makna naturalisme secara khusus ada dua hal yaitu :
               1. Hasil berlakunya hukum alam secara fisik. Misalnya, gerhana matahari merupakan
                   gejala alami/ terjadi akibat hukum gearakan benda angkasa.
    
              2. Terjadi menurut kodrat dan wataknya sendiri. Misalnya, orang mengatakan: "Secara
                  alami, wajar jika ia berbuat demikian. 
Dalam seni rupa aliran naturalisme adalah suatu faham yang memuja kebesaran alam oleh karena itu bagi kaum naturalis tidak mungkinlah untuk melukiskan bagian alam ini yang jelek-jelek. Lukisan naturalistik selalu menggambarkan keindahan alam sehingga natularisme memiliki sifat idealistik Sudarso, 1990:94).
Tokoh-tokoh Naturalisme : Rembrant, Williamn Hogart dan Frans Hall.

Di Indonesia tokoh yang menganut paham ini adalah : Raden Saleh, Abdullah Sudrio Subroto, Basuki Abdullah, Gambir Anom dan Trubus.
Contoh aliran seni Naturalisme:


b. Realisme

Realisme adalah corak seni rupa yang menggambarkan kenyataan yang benar-benar ada, artinya yang ditekankan bukanlah obyek tetapi suasana dari kenyataan tersebut. Mempunyai kecenderungan melukiskan segala sesuatu seperti apa adanya, tanpa berusaha mengidealisasi alam, memperbaiki ataupun menyempurnakannya. Bahkan cenderung menampilkan peristiwa-peristiwa kepahitan hidup, seperti kemelaratan, kejorokan dan lain-lainnya (Soegeng Toekio dkk, 1987:36). 

Pendapat para penganut realisme, “kenyataan” itu paling tidak tersusun dari dua jenis hal yaitu partikularia dan universalia. Dunia tersusun dari banyak hal: hal-hal yang bersifat jasmani, hal-hal yang bersifat rohani dan universalia. Hal-hal yang ditentukan oleh ruang dan waktu dinamakan yang-bereksistensi , sedangkan hal-hal yang tidak bersifat rohani, yang tidak bersifat jasmani dinamakan yang bersubsistensi (Kattsoff. 1992:111).

Tokoh-tokoh Realisme: Gustove Corbert, Fransisco de Goya dan Honore Daumier.

Contoh aliran seni Realisme :




c. Romantisme

Romantisme merupakan corak dalam seni rupa yang berusaha menampilkan hal-hal yang fantastic, irrasional, indah dan absurd. Aliran ini melukiskan cerita-cerita romantis tentang tragedy yang dahsyat, kejadian dramatis yang biasa ditampilkan dalam cerita roman. Penggambaran obyeknya lebih sedikit dari kenyataan, warna yang lebih meriah, gerakan yang lebih lincah.

Aliran romantik dipelopori di Perancis oleh J.J. Rousseau dengan romannya La Nouvelle Heloise yang kemudian dicontoh di seluruh Eropa Barat. Di Inggris mula-mula tampak dalam karangan Wordsworth (“Hanya manusia yang dekat dengan alam dapat memandang apa yang indah dan murni”), kemudian kentara pula, walaupun berlainan coraknya, dalam gubahan-gubahan Walter Scott (Roman-roman bersejarah), penyair-penyair Byron, Shelley, Victor Hugo dari Perancis pada abad XIX, dan lain-lain. Di Jerman ( Sturm und Drang ) kejayaan romantik terlebih kentara (Novalis, Schiller, Goethe, dll) dan tak saja meliputi kesusasteraan tetapi pelbagai lapangan lainnya seperti filologi, gelanggang politik (liberalisme lawan reaksi) filsafat (idealisme lawan realisme), seni rupa, musik (misalnya Chopin dan R. Wagner), ilmu hukum (aliran yang berdasarkan sejarah dan sebagainya (Van Hoeve, tt:1186)

Aliran Romantis menurut Lorens Bagus memiliki beberapa pengertian:

1. Ungkapan tentang sifat Romantis, atau hasil dari sifat tersebut dalam sejarah seni dan filsafat. Kualitas
   dan ciri Romantisisme adalah: 

            >>> Penekanan terhadap pencerapan (sensasi) langsung dan perasaan-perasaan kuat yang timbul
                    karena alam atau karena peristiwa dari alam. 

            >>> Kecenderungan mempersonifikasikan alam (Ibu Pertiwi, Roh Dunia) dan kecenderungan
                    untuk secara emosional mengidentikkan diri dengan proses-proses dan kekuatan-kekuatan
                    alam.

            >>> Penekanan terhadap keunikan, kepentingan, dan kesucian tertinggi individu dan kekuatannya.

            >>> Kebencian terhadap hal yang teratur, rasional, intelektual dan moderat. Kesenangan terhadap
                   spontanitas, ketidakteraturan, variasi, yang tidak dapat diperkirakan, ketidakpastian,
                   pemberontakan, keliaran, imajinasi, hal yang luar biasa, aneh, baru, eksentrik, tidak biasa. 

Contoh aliran seni Romantisme :